Tampilkan postingan dengan label Kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kenangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Desember 2009

Kenangan natal masa kanak-kanak

Masa anak-anak adalah suatu masa yang begitu indah, terutama menjelang Natal suasana hati akan terasa sangat beda. Baaru bulan November kita sudah diiming-imingi baju baru, tapi dengan syarat "ikkon burju ho amang mangalean pinahan i mangan da, asa hatop balga, asa adong gadisonta lao manuhor baju natal di ho da". Walaupun itu baru janji, namun kita akan melakukannya dengan baik, dengan harapan "ah,... bagaknai au annon pajojorhon, molo marbaju baru dohot sipatu baru".
Kita semakin semangat mangaloppa indahan ni pinahan on, manjaljal bulung gadong, papunguhon dodak sian gilingan padi nisi pirit. Teriakan "hujjeeeee" akan semakin sering terdengar untuk memastikan bahwa pinahan kita masih kenyang.
Disekolahan kita sudah mulai latihan koor natal (molo hami di SD 2 najolo Kls 4,5,6 digabung mai marsiajar markoor, jala sai huingot dope sahat tu saonari koor parjolo nahuparguru hami tikki SD ima 'Balga tutu pambaenMi Tuhan....')
Digereja songon anak Sikkola Minggu sudah mulai marguru pajojorhon.
Tep jumpa ma tikkina natal sikkola minggu, pagi-pagi nunga lao tugareja mamboan mare-mare, anturmangan, silinjuang, arung untuk menghias gereja. Akka sintua nungga mangaloppa jagal, tonga ari semua sudah selesai. Gaba-gaba sian anturmangan dan arung sebagai tempat lilinnya, mare-mare dipasang dipintu masuk dan disetiap jendela sebagai tanda selamat datang,tiap tiang ditengah gereja dihias dengan silinjuang dengan kertas krep yang dibentuk sebagai hiasan memanjang didalam gereja. Sintua sudah selesai mangaloppa jagal.nunga marpungu sude anak sikkola minggu masiboan indahan na dirantang, dibagihon sintua ma jagal. Makan bersama begitu nikmatnya. Habis mangan nunga maridi iba, nunga sai maos nicoba baju baru dohot sipatu baru i (behama naso hea mamakke baju baru, ai holan hari natal ido manuhor baju baru. Pukkul onom botari, nunga lengkap iba mamakke baju baru naung digosok songoni leslesna boi maneat honas ala ni tajomna, sipatu baru, rambut pakai minyak lavender (ala namarnatal i nituhorma miak rambut lavender saotik, memang geokdo najolo boi do manuhor miak rambut holan sappeltek) sai hira gosokan ma iba dijabu sipatu mallatak-latak, 'gogo baen soaram annonda, asa binege sian pudi' ninna bapaonmai. Lao ma iba tu gareja, niangkat ma nanget-nanget sipatui ditikki mardalan, asa unang pintor mosos ninna roha dibagasan.
Tepma giliran niba pajojorhon, pintor hatop do iba lao tujolo, asa dibereng halak namarsipatu baru dohot baju baru iba, jala pittor sai hira tentara do iba jongjong.
Memang godang do nageok ditikki pajojorhon sikkola minggu, adong maon natangis ala so diingot sipajojoronna mamereng torop ni jolmai, adong mai naputus ditongan dalan dang boi diingot sude sipajojoronna i, ala pabutokku mungkin mangan jagali. Alai adong sada nageok huingot, pasma sahalak anak niguru napajojorhonon, dang diingot ibana sude sipajojoronnai,'....guru, guru, guru' holan ittapnima diingot ibana, pintor adongma ama-ama manambung sian pudi "guru pendek" ninna ala gelar ni bapana guru peddek, pintor mekkel ma sude jolmai, ujungna gabe tangis dongan i.
Dung sidung napajojorhon i, pintor marsigulutma mabuat lilin sian gaba-gabai.
Saonari molo niingot i sai olo ma iba mekkel suping.

Kamis, 17 Desember 2009

Sihamenehonku

"Oooo Aek rangat nauli sadihari pe au ro
ro manornophon daging ki......."

Untaian kalimat diatas merupakan ungkapan hati yang selalu rindu akan kampung halaman. Sejauh manapun kita berjalan, setua apapun kita, dimanapun keberadaan kita saat ini, tempat kelahiran tidak akan terlupa. Aek rangat-Sipoholon "disi do pusokki" disanalah aku menghirup napas kehidupan untuk pertama kalinya. Takkan mungkin aku melupakannya.

Aek rangat...., menorehkan banyak kenangan, kadang molo hundul ahu punjung, kenangan akan huta dan masa sihaetehon terbayang didepan mata, seakan dekat.... sekali. Film dokumenter ingatan akan masa kecil, diputar kembali. Kadang tersenyum mengingat kondisi kita dimasa kecil, yang memakai celana yang "pellut" diikat pakai bayon,sebab celana kebesaran dan bekas abang. Juga ciri khas parhuta-huta yang 'kodol,mommonon',tanpa alas kaki.

Teringat lagi, akan masa masa sekolah, yang hanya membawa satu buku tulis, yang jika sudah habis ditulisi, akan kita hapus lagi dari halaman depan untuk kita tulis kembali, tanpa sepatu alias cakar ayam, tapi menghasilkan anak yang mempunyai ingatan yang kuat akan pelajarannya.

Jika sudah sore, tugas rutin "mangalean pinahan" makan. Dengan suara khas dan keras meneriakkan "Hujjeeeeeee....." sebab pinahan berkeliaran. yang membuat senyum semakin mengembang adalah saat aku ingat, ketika inong pulang dari kebon, yang pertama ditanya itu adalah "nunga mangan pinahan....?" oala....,pinahan do parjolo disungkun, dang jolma. Molo nisungkun taringot tusi, didokma, "pinahani do pasikkolahon ho". ahhhhahahaha "masa pinahan pasikkolahon jolma".

Bulan purnama, masa yang begitu menyenangkan. Hingga aku kelas 2 atau kelas 3 SD dikampung kami belum ada listrik, apalagima TV. Makanya saat bulan purnama, saat yang paling menyenangkan buat kami anak anak. Ada permainan "Andarguk", nyanyi bersahutan, "martul", perang-perangan pakai "lampak ni pisang", dan banyak lagi permainan yang tidak mengeluarkan biaya. Mana ada mainan kayak mainan zaman ini, walaupun ada dujual, darimana duit untuk beli itu, celana aja diikat pake bayon. Tapi kreativitas anak anak terpacu. banyak jenis mainan yang dapat dibuat,misalnya, gasing, motor-motor sian utte albung, leang-leang,ahh banyak lagi, naung lupa do au.

Molo ro tulang, inilah saat paling enak,... Pasti mangallang jagal manuk, molo dang i tanggo-tanggo manang dangket-dangket ni Ampera. sai pinahombar-hombar ma jonok tu tulang on, asa dilean di iba hepeng. Walaupun lima rupiah, tapi itu sudah banyak bisa beli gula-gula 5 biji. saat mau makan, terpaksa juga kita diajak makan, alana nunga sai jonok iba tu tulang.

Hari minggu, pintor hatop do iba maridi. Pakai pakaian yang paling bagus, marsikkola minggu.
Hanya saat minggu inilah kita punya duit. Kita dikasi duit 'saratus logam', kita masukkan ke kerangjang persembahan, tapi pulangnya kita dikasi kembalian duit kita. Karena persembahan kita diasumsikan hanya lima rupiah, jadi kembaliannya sembilan puluh lima rupiah. Didepan gereja sudah menunggu 'siak-siak', kacang kedele, goreng dan lain-lain.

Semua hal itu terbayang didepan mata, membuat senyum semakin mengembang, ah... tahe, dang haulahan be mulak poso, hutakki sai malungun do au tu ho.

Jumat, 16 Oktober 2009

Mengembalikan keindahan panorama Aek rangat Ria ria Sipoholon

Jauh dalam kenangan, terpampang jelas gambar "ria-ria" Sipoholon dengan pemandian Air panasnya dikitaran tahun 70 an. satu desa kecil diperlintasan antar kota Sumatra namun banyak dikunjungi tourist manca negara. Paling tidak dalam seharinya 4 bus parawisata mampir disana melihat indahnya panorama pebukitan kapur dan sumber air panas alami.
Dulu yang pertama kali mendirikan usaha pemandian air panas disana hanya satu keluarga St. K.Situmeang (+), dengan laponya "Sabas" yang terkenal dengan dendengnya. Dengan 3 kamar mandi tertutup, dan dua kamar mandi yang lumayan luas untuk umum, yang diperuntukkan untuk penduduk setempat untuk mandi secara massal dipagi hari dan sore.
Bagi orang yang pernah ke sana akan bisa membayangkan, bahwa areal lapo sabas sekarang dengan lapo disebelahnya itulah dulu lokasi lapo sabas dan disebelah kirinya dulu itu adalah kolam "ikan jahir" dan 2meter dibelakang kamar mandi itulah bukit kapur yang begitu indah. Bentuknya mengikuti alur aliran air panas dari sumber mata air di atas bukit. Banyak terdapat tiang batu kapur yang begitu indah yang membuat orang tertarik untuk mengabadikannya.
Memang dulu batu kapur sudah di ambil dari sana tapi tidak sebuas tahun 80 an keatas. Dulu yang mengusahai/mengambil batu kapur disana hanyalah KK.M.Situmeang yang rumahnya di Lumban same. Setiap harinya mereka mengirim batu kapur itu 2 truk ke Medan. Tapi mulai tahun 80 an semua "raja tano" yang pada umumnya marga Situmeang seakan berlomba menggali lobang sedalam dalamnya untuk mengambil batu kapur dan di jual ke Medan. Mereka meninggalkan ladang dan sawahnya tarulang untuk mengejar 'hepeng' dari hasil penjualan batu kapur itu. Penggalian tidak terkendali lagi, songon na nidok ni natua tua "marrara mata marnida hepeng" dan itulah motivasi paling utama "hepeng" dan mereka seakan akan tidak memperdulikan lagi akibat dari penggalian besar besaran itu. Sejak saat itulah keindahan panorama bukit kapur Ria-ria Sipoholon seakan pupus. Yang dulunya perbukitan indah akhirnya jadi "Lobbang" menganga.
Memang dulu pernah dikelola oleh Pemda satu lokasi wisata pemandian air panas di Peanariburan. Disana dibuat beberapa tempat pemandian yang suhunya diatur mulai dari yang dangol-dangol sisilon sahat tu na mohop, dan setiap hari minggu didatangkan Band untuk memeriahkan suasana di lokasi wisata itu. Tapi tahun 1986 terjadilah gempa tektonik yang mengguncang daerah Sipoholon sekitarnya yang mengakibatkan pindahnya tempat keluarnya/sumber air panas itu. Sejak saat itu banyak tersebar sumber air panas yang kecil di sekitaran itu, tapi yang di Peanariburan mati, dan sejak itu tempat wisata itupun tutup dengan sendirinya. Lama kelamaan yang dulunya kolam ikkan jahir ditimbun dibuat jadi lapo dan pemandian air panas. St. K.Situmeang anak yang punya tanah ikut meramaikan usaha pemandian air panas dan akhirnya semua kolam ikan itu ditimbun dan menjadi lapo pemandian air panas. Tapi yang paling menggenaskan usaha penggalian batu kapur masih terus berjalan dan yang pasti akan meninggalkan masalah dikemudian hari. Yang menjadi pertanyaannya, Apakah masyarakat Sipoholon khususnya Ria-ria dan pemerintah setempat tidak menyadari akan akibat dari penggalian bukit kapur yang tidak terkendali itu? Apakah masyarakat disana tidak ada keinginan untuk mengembalikan keindahan panorama bukit kapur itu yang bisa mengundang banyak wisatawan mancanegara maupun lokal untuk berkunjung kesana? Unang do molo untungna dihalaki raja tanoi, alai molo ro bencana gabe sude jolma na disi manaon i. Memang jika penggalian itu distop, akan memungkinkan berkurangnya penghasilan mereka sehari-hari, tapi dampak positifnya adalah kemungkinan panorama bukit kapur itu bisa kembali seperti sedia kala, sebab air panas itu mengandung kapur. Jika dibiarkan lama kelamaan akan mengisi bekas galian yang ada sekarang. Dengan semakin mengalirnya wisatawan datang kesana akan menampah penghasilan masyarakat secara umum dan bukan hanya raja tanoi yang menikmatinya. Juga Pemda harus mencoba lagi menata dan mengelola dan membuat wisata pemandian air panas yang tempatnya memungkinkan, dan dari sana raja tano akan mendapat konvensasi dari pemakaian lahan mereka dan mengikutkan mereka didalam usaha parawisata itu, sehingga mereka tidak merasa dirugikan. Memang demi kebaikan semua pihak harus ada pengorbanan. Asa unang songon nanidok ni natua tua "unang sumolsol dipudi, ndada sipasingot nasoada." Horas ma dihita sude paraek rangat ria-ria sipoholon, manang na didia pe hita tinggal saonari, tongtong ma taingot hutantai. Taingot ma slogan sumut 'martabe'. Horas.